Rangkulan Hantu Penasaran


Raja siang telah kembali dari peraduan,  gelap datang selimuti sekolah. Angin mulai menyeret dedaunan hingga tubuhku bergetar. Suasana sangat dingin, setiap sel didalam tubuhku serasa ingin meronta keluar. Selang beberapa saat butiran-butiran bening jatuh dan menghantam kepala kami dengan ganasnya. Hujan turun dengan derasnya membasahi dedaunan. Kemudian aku mendengar suara aneh.
“Selly, apa kau mendengar sesuatu?”
“Tidak , memangnya ada apa?”  Selly melihat sekeliling.
Tiba-tiba suara aneh itu lenyap ditelan senja. Akhirnya aku dan Selly memutuskan untuk berjalan menuju kelas. Karena kelas kami berada dipojok jadi kami harus berjalan kaki sedikit jauh. Ah lebih baik kita duduk saja di bawah pohon. Gumamku.
Keesokkan harinya aku, Ila, dan Selly makan bersama di kantin. Kami saling bercerita tentang hantu misterius yang sering menghampiri kami. Merinding itu yang sekarang aku rasakan. Sempat terlintas dibenakku mengapa hantu tersebut senang menghantui kami? Apakah kami memiliki salah padanya? Entahlah, dunia memang aneh. Sembari berbicara sendiri aku memutar-mutar sendok yang ada dimangkokku hingga kuah dan bakso meloncat tepat mengenai baju Ila.
“Eh Jeng, jangan ngelamun dong! Kuah baksomu kena bajuku loh.” Bibirnya yang merah merekah mendadak manyun saat kuah bakso mengotori seragam putihnya.
“Ya maaf La, kan aku nggak sengaja.”            
“Sel, ayo ikut aku bersihin bajuku.” Ila menarik tangan Selly
Aku bergegas ke kelas dan mengambil minum dibotol warna biru pemberian ibu.
GLEEK! Uhuk uhuk! Aku merasakan seperti ada yang mendorong botol minumku saat aku minum hingga aku tersedak.
“Ah sialan! Siapa sih yang ganggu aku!”
“Ajeeeeeng!” Ila dan Selly berlari kearahku, wajah mereka terlihat sangat ketakutan.
“Eh kenapa? Ada apa?”
“Tadi aku kan nyuci bajuku yang kotor dikran dekat pohon beringin. Lalu aku mendengar suara rintihan perempuan menangis disitu.” Ujar Ila
“Iya, bulu kudukku juga merinding mendengarnya. Itu sebabnya kami lari terbirit-birit.” Tambah Selly
Aku berusaha menenangkan mereka. Kami duduk bersama. Tiba-tiba aku teringat  sesuatu aku harus menemui pak satijo untuk memberikan uang. Kepergianku diiringi dengan masuknya mahkluk itu kelasku. Aromanya tajam, harum tapi begitu aneh seperti bau bunga kamboja dengan taburan kemenyan. Angin dingin bertiup lirih menembus jendela kelas membuat semua bulu kuduk temanku merinding bahkan guruku pun juga merasakannya .
Beberapa saat kemudian, aku kembali ke kelas. Tapi anak-anak malah menatapku dengan wajah penuh ketakutan.
“Pop..po..pocongg! Ajeng kayak pocong!” salah satu temanku berteriak
“Loh kenapa?” Aku bertanya-tanya tapi teman-teman tidak ada yang menjawab. Mereka mengunci mulut mereka rapat-rapat.
“Hey ada apa denganku?” Bahkan saat aku mendekati, mereka malah menghindar.
Hari ini menjadi hari yang aneh bagiku. Ketika pulang sekolah teman-teman tidak ada yang menyapaku. Mereka semua menatapku dengan wajah ketakutan. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mereka bilang bahwa wajahku seperti pocong.
***
Dijendela kayu berhias gorden merah muda dengan motif bunga sakura seorang gadis berkulit coklat diam memandangi langit. Sering kali ia bertanya pada rembulan tapi rembulan hanya bungkam dan memberikan cahaya putih. Sering kali ia bertanya pada bintang tapi bintang hanya membalas dengan kerlingan cahaya. Gadis tersebut adalah aku. Aku menatap lekat-lekat foto-fotoku dan teman-temanku ketika MOS. Sedikit aneh memang. Difoto ada seberkas cahaya putih. Salah satu temanku pernah bilang itu adalah penampakan. Tapi aku sama sekali tidak percaya, mungkin ini hanya biasan cahaya, pikirku.
Seraya memandangi foto-foto sempat terlintas dipikiranku bahwa sejak aku bersekolah di SMP Bakti Mulia memang sering sekali kami mengalami kejadian aneh, mulai dari suara-suara yang tidak tahu asalnya, aroma bunga kemenyan sampai kecelakaan yang menimpa kak Agung hingga tangan dan kakinya patah. Ini sungguh aneh! (aku meronta).
Lalu suara ketukan membuyarkan lamunanku.
TOK! TOK! TOK!
“Siapa?”
“Ila dan Selly.”
“Yaudah masuk aja, pintunya nggak dikunci kok.”
“Ajeng, kita harus segera bertindak! Kita harus ke sekolah sekarang!”
“Untuk apa? Sekarang sudah jam 9 malam? Apa kau gila?”
“Kita harus mengungkap misteri tentang hantu perempuan yang sering menghantui kita!” Ila berbicara dengan semangat yang berkobar bak pahlawan yang akan berperang
“Ayo cepat!” Selly menarik tanganku. Tubuhku sedikit bergetar karena aku tahu bahwa malam ini adalah malam jumat kliwon!
***
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong kelas. Tidak ada cahaya lampu disini, hanya ada seberkas cahaya rembulan yang baik hati namun cahayanya semakin memudar tatkala aku semakin masuk ke sebuah ruangan pojok sekolah. Hawanya sangat dingin, seperti menusuk kulit ari dan memaksa darahku untuk keluar dari tubuh. Selly yang dari tadi mengenakan kalung bawang putih membuka setiap pintu. Dia memang yang paling berani diantara kami bertiga. Sedangkan Ila, mulutnya tetap komat-kamit membaca asma Allah.
BRAAKK!
Sebuah lukisan jatuh tepat disebelahku. Jantungku serasa ingin copot.
Aku membuka lukisan yang jatuh terpungkur itu. Dan apa yang kulihat? Lukisan gadis yang mengenakan jubah ungu, wajahnya sangat cantik dan bersinar. Terlihat bahwa saat itu ia sedang bahagia. Tapi seketika itu juga lukisan tersebut menjadi lukisan yang sangat menyeramkan! Matanya melotot seperti orang tercekik! Kemudian darah segar tiba-tiba melombat kebajuku! Sontak aku melemparnya. Lukisan itu nampak hidup!
Dibalik jendela kaca aku melihat perempuan berambut panjang, wajah dan lehernya penuh darah. Ia mengenakan jubah ungu, persis seperti baju yang dikenakan perempuan di lukisan tersebut. Perempuan itu memandang kami bertiga. Lalu kilatan cahaya menyambar kami. LAAAP! Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku merasakan tubuhku diterkam oleh seseorang.
Aah! Aaah! Nafasku terengah! Aku seperti dicekik, tubuhku serasa sangat lemah bahkan tanganku saja sulit untuk kugerakan. Kemudian aku merasakan seakan tubuhku dililit oleh seseorang. Rasanya sangat sakit. Bau tak sedap menusuk hidungku. Aku membuka mataku perlahan dan ternyata wanita itu sedang merangkul tubuhku. Aku melihat wajahnya yang berlumuran darah. Ada goresan luka diwajahnya dan sayatan-sayatan disekujur tubuhnya. Aku meronta, lebih keras, dan lebih keras tapi sekeras aku meronta sekeras itu pula tubuhku dililitnya sampai aku sudah tidak kuat dan merasa bahwa ajal telah menjemputku.
***
“Akhirnya kamu bangun Jeng!”
“Memangnya aku kenapa?”
“Kamu pingsan di kelas 9B, kami menemukanmu dengan keadaan yang mengenaskan, tubuhmu berlumuran darah, dan ada bekas cakaran ditanganmu.” Jelas Selly
“Kita sudah menemukan misteri hantu wanita tersebut, ternyata wanita itu adalah penghuni rumah kosong yang bunuh diri. Lalu beberapa tahun setelah ia bunuh diri, rumahnya diratakan dan dibuat sekolah.”
Tapi mengapa ada lukisan diruangan itu, siapakah yang menyimpannya? Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri dan aku tahu takkan ada yang menjawabku. Ini akan tetap mejadi misteri.

THE END
Reactions:

0 comments:

Post a Comment