Pesan Dibalik Hujan


Langit kian kelam menutupi cahaya bulan sabit. Beberapa saat kemudian hujan mulai mengguyur Kota Sidoarjo. Bangunan-bangunan yang tinggi kokoh mulai basah tersiram air hujan. Garis lurus pemotong bangunan-bangunan itu turut basah dan mesin-mesin berderu pun mulai enggan melewatinya. Suasana terasa sepi dan hening. Hanya suara petir yang menghiasi langit.

Di depan toko yang tak terpakai seorang gadis berambut hitam panjang tengah memeluk gadis kecil yang mengigil. Gemeltuk giginya kian kencang beriringan dengan hujan yang turun deras. Bersamaan dengan itu pemuda dengan tubuh jangkung ikut berteduh bersama mereka.


“ini aku ada selimut, kalian bisa memakainya.” Pemuda bermata coklat tersebut menyodorkan selimutnya kepadaku.

“terima kasih, tapi kakak lebih membutuhkannya daripada kami.” Aku meletakkan selimut ke pangkuan pemuda tersebut.

“tidak adik, kau dan adikmu lebih membutuhkannya, pakailah!” Kali ini dengan menebarkan selimutnya ke tubuh kami. Sedangkan ia hanya berselimutkan angin malam.

Suasana yang dingin dan hewan-hewan nakal yang selalu mencari masalah membuatku terbangun. Ini sungguh menyiksa. Batinku.

“seandainya mama tidak pergi pasti aku tak akan seperti ini.” Setetes air mulai meluncur dari wajah  perempuan berkulit coklat. Kulitnya yang dulu putih kini berubah akibat kejamnya sengatan matahari.

“aku benci papa! Aku benci papa! Aku benci papaaa!”

Suaraku yang kian keras membangunkan pemuda bertubuh jangkung tersebut.

“hey kau kenapa?”

“ah enggak.” Jawabku ketus sambil membuang muka.

“pasti kau sedang memendam sesuatu, ceritakan saja padaku mungkin aku bisa membantu.” Ucapnya seraya menatapku dengan tatapan yang begitu tajam

“sudahlah , abaikan!” aku mencoba untuk mengusap air mataku.

“jangan kau pendam masalah, itu malah akan membuatmu menderita.” Pemuda bermata coklat ini menatapku, tatapannya sungguh membuatku damai dan sejuk.

Aku tak tau mengapa dengan mudahnya aku menceritakan semua masalahku kepadanya tanpa berfikir panjang dia siapa, datang darimana, dan apa gunanya aku menceritakan masalahku kepadanya. Aku bahkan baru saja bertemu dengannya tadi sore tapi aku seperti tidak asing kepadanya.


Di tengah malam yang bertaburkan bintang kami saling menceritakan semua masalah kami. Berbagi pendapat tentang hidup yang kejam. Dan semuanya. Aku seperti telah diisi oleh baterai semangat dari Mas Dani. Sempat terlintas dibenakku bagaimana kalau Mas Dani pemuda berwajah tampan dan bertubuh jangkung ini menceritakan masalahku pada papa atau mungkin teman-temannya? Ah gak mungkin , dia kan gak kenal papa dan teman-temannya juga gak kenal aku.

Di akhir pembicaraan kami, Mas Dani meminta gelang merah yang aku kenakan.

“Buat apa Mas? Ini kan gelang perempuan Mas?”

“Buat kenang-kenangan kalau kita pernah bertemu.”

Aku memberikan gelang merah yang warnanya sudah nampak kusam dengan hiasan pita kecil disepanjang lekukan.

Hari semakin larut , aku memutuskan untuk melanjutkan tidur yang tertunda. Mas Dani memutuskan untuk tidak tidur, katanya sih masih belum ngantuk dan ingin merenung sejenak.


***


Matahari telah mengintip dibalik dedauan. Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar tapi berat rasanya, sepertinya kelopak mataku enggan menyetujuinya.

Samar-samar, aku melihatnya berjalan, menjauh, dan semakin menjauh. Mungkin Ia pulang ke rumahnya. Mataku kembali menutup melanjutkan tidur nyenyakku semalam dengan selimut ini.

“Mbak Annis bangun, sudah siang.”

“Mbak masih ngantuk.” Gumamku

“Rani bawa makan loh buat Mbak.”

Mendengar kata makanan aku langsung bangun, jelas saja dari kemarin belum ada sesuap nasi pun yang masuk ke perutku.

“Mbak, tadi Mas Dani tanya banyak soal kita terus ngasih uang ke aku , katanya buat beli makan.”

“Mas Dani?” Lirihku

“iya Mbak, Mas Dani juga bilang katanya pengen ngobrol lebih banyak sama Mbak tapi Mbak keburu tidur duluan.”

Dengan senyum menghias pipinya, gadis kecil berumur 6 tahun itu dengan gamblangnya menceritakan tentang Mas Dani, mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, sampai dengan menceritakan kisah hidupnya.


Aku tak habis pikir kenapa pemuda itu menceritakan masalah pribadinya kepada seorang gadis kecil. Bukankah tadi malam Ia telah menceritakan semua masalahnya padaku? Apa mungkin Ia tak memiliki teman untuk menumpahkan seluruh kesedihannya? Ah entahlah, mungkin Ia hanya mencari simpati kepada gelandangan seperti kami. Tapi mendengar cerita dari adikku, Rani, sepertinya ia memang kabur dari rumah karena terkekang oleh orang tuanya. Tetapi dia kan orang kaya. Dia punya segalanya. Ah dasar orang kaya tak bisa bersyukur. Ocehku.


***


"kenapa kamu bangun?” Pemuda berpawakan tinggi itu mendekat pada Rani

“Rani lapar, dari kemarin belum makan.”

“ini Mas ada roti buat kamu.” Ucap pemuda tersebut seraya memberikan roti kepada Rani

Dengan lahapnya Rani dan pemuda itu memakan roti dengan porsi jumbo yang dilapisi barisan cream susu diatasnya. Hidungnya yang bangir memaksa cream susu menempelkan dirinya pada wajah pemuda itu.

“ngomong-ngomong kenapa kamu dan kakakmu tidur disini?”

“kami nggak punya rumah, Rani sama Mbak Annis diusir papa.”

“kok bisa?”

“Rani juga nggak tau, pokoknya papa sering marah-marah terus nyuruh kita pergi.”

“lantas apa masalahnya kalian bisa diusir?” pemuda itu menatap lekat-lekat wajah gadis kecil ini.

“hmm.. pokoknya semenjak mama meninggal, papa sering bawa perempuan ke rumah, terus Mbak Annis sama papa bertengkar setiap hari, Rani sampe pusing.” Sambil melahap rotinya Ia menjelaskan kehidupannya dulu.

Mas Dani, seorang pemuda berwajah tampan terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada Rani. Hingga pada akhirnya ia menceritakan kehidupan pribadinya. Ia kabur dari rumah karena terkekang oleh ayahnya yang selalu saja memaksanya untuk menjadi seorang musisi terkenal dengan selalu menyuruhnya mengikuti les musik klasik dan lain-lain hingga waktunya selalu habis untuk mengikuti les musik. Padahal Ia sangat mencintai dunia olahraganya. Tetapi sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan itu semua. Ayahnya selalu bilang bahwa itu adalah kegiatan yang tidak akan memberikan manfaat dan hanya bisa menguras tenaga serta menghabiskan waktu. Amarah ayahnya selalu meledak jika Ia melihatnya bermain basket. Dani tidak bisa meninggalkan ini semua, ini adalah kesukaannya. Oleh sebab itu Ia memutuskan untuk pergi dan mencari dunianya.

Melalui cahaya dari mata Annis Ia menemukan sebuah jendela yang akan mengantarnya untuk menuju kesuksesan dan menunjukkan pada papanya bahwa Ia bisa dan ini adalah jalan hidupnya. Seorang gadis yang baru Ia kenal  beberapa jam lalu telah mengobarkan semangatnya. Dani sempat beberapa kali berfikir gadis yang baru berusia 16 tahun dengan lantang memberikan motivasi kepadanya yang telah berumur 20 tahun. Bukan hanya itu gadis berparas cantik ini telah meluluhkan hati seorang pemuda yang selama ini tidak mengenal cinta. Meskipun tubuhnya telah tergores debu jalanan tapi pribadinya yang luhur ibarat air suci menyiram batinnya.

Lama Dani dan Rani berbicara, Dani memberikan 2 lembar uang seratus ribu rupiah kepada Rani, alasannya untuk membeli makan. Lalu pemuda ini pergi meninggalkan Rani dan Annis.


*5 tahun kemudian*


Terik matahari semakin menyengat tubuhku. Kerudung putihku semakin lecek akibat keringat yang mengucur deras. Padahal beberapa waktu yang lalu aku harus berdesakan dengan sekelompok orang di Pasar dan sekarang aku harus berjalan menuju parkiran mobil dengan jarak yang cukup jauh. Ini semua dikarenakan parkiran mobil di pasar sedang direnovasi.

Meskipun aku telah menjadi orang yang bisa dibilang mampu tapi entah mengapa aku lebih suka membeli kebutuhan di Pasar. Mungkin ini terbiasa sejak aku hidup miskin. Dengan usaha rumah makanku sekarang kehidupanku sudah membaik walaupun tidak seperti bersama mama dan papa dulu yang selalu hidup mewah.

Belum sempat aku sampai di parkiran mobil, tiba-tiba langit kian kelabu. Tak lama kemudian hujan mulai mengguyur kota ini. Kota yang telah membesarkanku dan menjadikanku seorang yang mandiri. Aku merasakan ada yang berbeda dibalik tetesan hujan kali ini. Sepertinya tetesan hujan kali ini mengirimkan sebuah pesan untukku. Entah apa itu, aku tak bisa membacanya.

Akhirnya hujan telah berhenti. Sekarang aku harus cepat-cepat pulang. Dengan berjalan aku segera membasuh wajahku dan merapikan kerudung yang kini telah basah tersiram air hujan bersama baju merah mudaku. Tapi tiba-tiba...

BRUUUUKK!

Ah sayuranku jatuh semua! Siapa sih yang menabrakku?. Keluhku dalam hati.

“hmm.. maaf ya Mbak saya tidak sengaja.”

“i..iya tidak apa-apa..” aku menatap wajahnya, dan aku seperti mengenalinya

Laki-laki tersebut diam dan hanya menatap Annis lekat-lekat.

“eh tunggu..” laki-laki bertubuh kekar dengan memakai pakaian seperti seorang bos ini memberhentikanku

“ada apa lagi pak?” aku terus menundukkan wajahku dan hanya melihatnya sekilas saja, tak berani rasanya jika menatap laki-laki yang belum aku kenal

“kamu Annis ya? Annisa?” Tanyanya menyelidik

“iya.” Jawabku singkat

“hey ini aku Dani, masih ingat sama aku? Kita pernah bertemu 5 tahun yang lalu. Dan masih ingatkah ketika kamu menumbuhkan semangatku 5 tahun yang lalu? Kau yang membuatku seperti ini.” Laki-laki ini terus berbicara dan aku tak mengerti apa yang Ia bicarakan. Sungguh aku tidak tahu aku lupa. Berkali-kali Ia mengulangi kata-katanya tapi aku hanya diam. Sempat aku menatap wajahnya, memang tidak asing tapi dia siapa? Aku kembali menundukkan wajahku. Hingga pada akhirnya Ia menunjukkan sebuah gelang berwarna merah dengan beberapa pita kecil yang masih menghiasinya. Seketika itu juga ingatanku kembali. Gelang itu memang pernah kuberikan pada Mas Dani. Ia yang memintanya katanya sebagai penanda bahwa kita juga pernah bertemu.

“Mas Dani? Mas Dani sekarang tampak gagah sekali.” Secercah senyum menghiasi wajahku. Sungguh bahagianya diriku dapat bertemu Mas Dani kembali.

“Kau nampak cantik sekali Annisa, Kau semakin cantik dengan kerudung yang sekarang menjadi mahkotamu.”


Setelah pertemuan tersebut Mas Dani memutuskan untuk pergi ke rumah. Dia juga bilang ingin ngobrol banyak sekali. Ia menceritakan banyak hal kepadaku, mulai dari awal karirnya sebagai penjual makanan kecil, ikut klub basket, sampai menjadi sukses seperti ini. Aku juga menceritakan banyak hal kepadanya mulai dari hubunganku dengan papa yang kini baik dan semuanya. Kerinduan kami telah tertumpahkan. Sejak saat itulah hubunganku dengan Mas Dani semakin dekat.

Mas Dani sekarang telah menjadi laki-laki yang hebat. Dia telah menjadi pengusaha muda. Dia memiliki segudang arena olahraga. Aku turut bahagia mendengarnya. Cita-citanya sekarang terkabul bahkan papanya sekarang telah bangga kepadanya. Akhirnya pesan dibalik hujan telah tersampaikan.

Hidup ini begitu indah. Memang semuanya harus berawal dengan kepahitan dan kekejaman tapi dibalik itu semua ada sebuah mozaik hidup kita yang harus kita ketemukan. Untuk menemukannya, kita harus berusaha menggapai mozaik itu. Mozaik kehidupan itu adalah kesuksesan.


***THE END***


Karya : Dahlia Sylviana P


0 comments:

Post a Comment