Feeling

Awal kisahku dimulai saat  SMA. Aku terkadang merasakan banyak perubahan yang terjadi dihidupku. Agama dan cinta. Memang jika digolongkan aku bukan merupakan wanita istiqomah yang seperti mereka katakan. Sulit untuk menjadi orang baik tapi masih ada proses. Dan aku melakukan proses itu.
Aku beruntung. Teman-temanku adalah orang baik. Jadi kesempatan untuk melakukan perbuatan tercela sedikit. Walaupun tobat maksiat masih sering kulakukan. Hingga aku menemukan 2 lelaki yang begitu agamis. Yang pertama Rafiq, lelaki yang dulu sangat kusuka. Selalu berdakwah dengan sifat yang berapi-api. Yang kedua Rifa'i, lelaki yang baru kenal. Meski begitu dia lebih halus dalam mengingatkan seseorang. Mungkin ini lebih cepat membuatku berubah.
Tak cukup sampai disitu. Ada lelaki yang diam-diam menyukaiku. Tak kusangka. Ahh terkadang seperti mimpi aku tak pernah merasa disukai sejak aku putus hubungan dengan mantan pacar.
Febrian. Begitu namanya. Dia pribadi yang berlawanan dengan 2 orang yang kesebut tadi. Teman dekat Raihan. Orang yang kukagumi sejak pertama masuk SMA. Oh aku seperti penyuka laki2 ya? Yang kusuka awalnya hanya Rafiq. Hanya dia.
Aku sering kecewa dalam masalah percintaan. Bagaimana tidak orang yang kusuka selalu menyukai temanku. Tidak mungkin aku akan menikung. Itu sifat psikopat. Satu hal yg aku lakukan diam dan berusaha benci. Itu lebih manjur menurutku. Dan tidak bisa dipungkiri aku selalu kecewa.
Raihan sudah tau Febri menyukaiku. Tapi aku masih ingat ketika Raihan duduk disampingku. Aku sempatkan bertanya padanya "Kamu nggak takut Febri cemburu? Kamu tau kan perasaan dia ke aku? Kamu jangan kayak gitu aku disini harus jaga perasaan 2 orang. Meskipun aku ga suka Febri ga enak kalau sampai membuat dia sakit." Ah iyaa aku terlalu GR ngga sih? Iya mungkin. Kuakui aku terkadang bingung. Aku nyaman tapi harus ingat kamu pemain wanita. Andai saja aku masih jadi anak nakal seperti dulu mungkin sudah habis kau sekarang.
Oke kita lihat besok apa kamu masih ngajak aku main-main? Kalau ya bakal kutunjukkan cara mainnya.. aish sok berani padahal takut dosa.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment